April 23, 2017

Budidaya Hutan Rakyat

Budidaya Hutan Rakyat

 

Budidaya Hutan Rakyat – Sektor industri yang berbasis kayu alam pada saat ini mulai mengalami kesulitan. Seperti industri kayu lapis maupun mebel, yang sangat bergantung pada ketersediaan kayu sebagai bahan baku utama produksi mereka. Hal ini terkait dengan samakin tipisnya persediaan kayu alam yang selama ini menjadi sumber utama kegiatan usaha mereka.

Hal ini disebabkan semakin sedikitnya persediaan kayu hutan alam yang ada. Di sisi lain, semakin ketatnya aturan pemerintah dalam membatasi pengelolaan hasil hutan, menjadi salah satu kondisi yang berpengaruh signifikan dalam penyediaan kayu alam. Di antaranya adalah peraturan yang membatasi penebangan pohon hutan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri.

Kondisi ini disebabkan banyaknya pihak  yang memiliki ketergantungan terhadap keberadaan hutan Indonesia. Luasnya wilayah hutan Indonesia, berada di urutan nomor tiga terluas di dunia setelah Brazil dan Zaire. Itulah mengapa, pengelolaan hutan Indonesia tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena menyangkut kepentingan masyarakat dunia.

Jumlah hutan tropis Indonesia tercatat seluas 132 juta hektar atau setara dengan 70 % luas wilayah daratan. Dari keseluruhan luas tersebut, sebanyak 15 % dimanfaatkan untuk hutan konservasi. Sementara, sekitar 30 juta hektar lainnya atau setara dengan 23 % dari luas keseluruhan digunakan untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan. Sedangkan sisanya yaitu seluas 83 juta hektar lainnya digunakan sebagai hutan industri. Angka ini setara dengan 62 persen luas keseluruhan hutan alam Indonesia.

Hanya saja, dengan adanya permasalahan lingkungan hutan Indonesia kini tidak lagi mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Hutan Indonesia setiap tahun mengalami penurunan baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal yang mendukung menurunnya jumlah hutan Indonesia ini antara lain pembalakan liar, perdagagangan kay liar, perambahan hutan dan juga pembakaran hutan. Akibatnya sejak tahun 2005-2006, persediaan hutan alam nasional tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan kayu nasional.

Tercatat kebutuhan kay nasional diperkirakan krang lebih 43 juta m3 per tahunnya. Sementara. Jatah produksi tahuan yang ditetapkan pemerintah hanya 9,1 juta m3 dari Hutan Alam. Akibatnya terjadi defisit kebutuhan sebesar 34 juta m3 per tahunnya. Defisit inilah yang kemudian menyebabkan banyak perusahaan berbasis kayu alam harus melakukan perencanaan ulang dalam strategi perusahaan mereka.

 

Hutan Rakyat

 

Salah satu yang kemudian dikembangkan untuk menghindarkan diri dari tutupnya usaha, banyak perusahaan yang melirik sektor hutan rakyat sebagai media untuk memenuhi kebutuhan kayu mereka. Hutan rakyat sendiri dimaknai sebagai sebuah kumpulan tanaman yang menghasilkan kayu untuk kebutuhan industri yang dibentuk dari hasil budidaya manusia.

Biasanya, tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman yang dibutuhkan oleh sektor industri sebagai bahan baku produksi. Beberapa jenis tanaman yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah jabon, sengon atau albasia. Ketiga jenis tanaman ini memang memiliki spesifikasi yang dianggap memenuhi kriteria untuk industri yang bisa menggantikan kayu hasil hutan alam seperti jati atau meranti.

Keberadaan hutan rakyat ini sendiri sudah digalakkan oleh pemerintah, sejak tahun 1976. Hal ini dituangkan melalui Inpres reboisasi dan penghijauan dalam rangka rehabilitasi lahan di luar lingkungan. Dorongan pemerintah pun dilanjutkan dengan digalakkanya Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dilakukan pada tahun 2003 hingga 2009. Selain itu, pemerintah pun melakukan pendekatan pola swadaya masyarakat, pemberian subsidi melalui kredit usaha hutan rakyat (KUHR).

Untuk bisa disebut sebagai hutan rakyat, ada beberapa karakter yang harus dipenuhi. Di antaranya adalah bahwa keberadaan hutan tersebut berada pada lahan milik masyarakat. Dari sisi luas lahan, hutan rakyat tidak terlalu luas wilayahnya jika dibandingkan dengan hutan alam.

Biasanya pula hutan rakyat memiliki sifat yang mudah dipelihara dan resiko kegagalan yang kecil. Selain itu, sistem pemanenan yang dilakukan bisa ditentukan melalui proses tebang butuh tanpa perlu memperhatikan proses pelestarian atau kontinuitas pohon. Demikian pula, jenis tanaman yang hendak dikembangkan bisa disesuaikan keinginan serta kebutuhan pengelolanya.

Sejak pertama kali diperkenalkan sejak tahun 1976, hingga kini hutan rakyat yang berhasil dikembangkan sudah mencapai 3,5 juta Ha. Hal ini dicapai melalui berbagai proses pendekatan pemerintah yang dialokasikan melalui berbagai macam sumber pendanaan. Dari wilayah sejumlah ini, mampu menghasilkan persediaan siap panen atau standing stock mencapai 125 juta m3/ tahun dengan potensi siap panen mencapai 20 juta M3 per tahunnya.

Selama ini hutan rakyat banyak dikembangkan di kawasan Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Jenis tanaman yang banyak dibudidayakan dalam hutan rakyat tersebut di antaranya adalah sengon, mahoni, gmelia dan juga Jabon. Namun dari semua jenis yang disebutkan tersebut, tanaman sengon sempat menjadi primadona di kalangan petani hutan rakyat baik yang berada di Jawa maupun luar Jawa.

Hanya saja, fenomena Sengon tersebut tidak terlalu lama. Sebab, sekitar sepuluh tahun setelah berkembangnya hutan rakyat, tanaman ini mulai mendapatkan serangan hama. Perkembangan hama tersebut berlangsung demikian pesat diawali di kawasan Maluku yang berupa penyakit karat puru. Hama ini kemudian menyebar hingga ke pulau Bali. Di wilayah Jawa sendiri, jenis hama yang menyerang tanaman sengon ini adalah munculnya hama mata yang menyebabkan tanaman sengon kurang mulus pada saat ditebang karena banyak muncul bintik hitam.

Pada tiga tahun terakhir ini, banyak dikembangkan tanaman Jabon sebagai pengganti sengon pada hutan rakyat. Tanaman ini dianggap lebih mampu tahan terhadap serangan hama dan juga memiliki karakteristik yang cukup sesuai untuk bahan baku industri berbasis kayu.

 

Prospek Hutan Rakyat

 

Di Indonesia, bisnis di sektor hutan rakyat masih terlihat sangat cerah. Hal ini didukung dengan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa masih banyak celah yang bisa dimasuki untuk menikmati manisnya investasi hutan rakyat.

Beberapa peluang yang ada dalam investasi hutan rakyat di antaranya adalah :

  • Adanya peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Hal ini berimbas pada meningkatnya kebutuhan yang menggunakan bahan baku kayu setiap tahunnya.
  • Semakin menurunnya ketersediaan kayu hasil hutan alam secara signifikan.
  • Semakin besarnya kesediaan pihak industri dalam menampung dan menggunakan kayu hasil hutan rakyat pada kegiatan produksi mereka,
  • Kualitas kayu hutan rakyat yang tidak kalah dengan kayu hasil hutan alam.
  • Permintaan pasar pada produk yang menggunakan kayu hasil hutan rakyat yang semakin besar.
  • Harga kayu hutan rakyat yang lebih murah dan mudah dalam proses pendapatannya, menjadikan industri melirik hutan rakyat sebagai alternatif penyedia bahan baku.

 

Witono Hidayat Yuliadi

Direktur CV Jabon Kendal Sejahtera

No Rekening Bank BNI no rek 67534173 BNI KC. UGM Yogyakarta

Telpon 085848855353

 

Speak Your Mind

*