April 23, 2017

Pemanfaatan Jabon

Pemanfaatan Jabon untuk kegiatan industri di tanah air sangatlah banyak. Hal ini terkait dengan banyaknya industri yang menggunakan bahan dasar kayu. Sementara, ketersediaan kayu yang berasal dari hutan alam semakin terbatas. Baik secara kuantitas, maupun karena semakin ketatnya regulasi terkait pemanfaatan hasil hutan. Salah satu pemanfaatan Jabon di sektor industri adalah digunakan sebagai bahan dasar industri pembuatan kayu lapis. Hal ini terkait dengan karakteristik yang dimiliki oleh Jabon yang memang sangat sesuai sebagai bahan dasar pembuatan kayu lapis ini.
Dalam industri kayu lapis, ada beberapa syarat yang harus dimiliki sebuah batang kayu agar memenuhi kelayakan sebagai bahan dasar kayu lapis. Di antaranya adalah bahwa dalam setiap batang harus memiliki bentuk batang yang silindris, bebas cabang, diameter besar dan memiliki serat lurus. Syarat lain adalah kerapatan atau berat jenis diutamakan 0,50-0,55 g/ cm3. Selain itu, batang kayu harus mudah dikupas, mudah dikeringkan dan direkat. Susut arah lebar vinil kecil di bawah 6,5 %, warna dan gambar kayu yang sama dan bebas cacat mata kayu, kayu reaksi dan lain-lain. Dan semua syarat yang dibutuhkan sebagai bahan pembuatan kayu lapis itu ada pada kayu Jabon. Di mana bentuk kayu jabon yang lurus, dengan warna kayu teras berwarna putih. Tekstur Jabon yang bervariasi mulai agak halus sampai agak kasar dengan arah serat lurus. Kayu jabon juga terhitung mudah dikeringkan. Dengan pengeringan alami, membutuhkan waktu 38 hari sementara dengan alat pengering dianjurkan menggunakan suhu 57-76,5 derajat. Kelebihan jabon adalah, pada saat dikeringkan hanya menimbulkan sedikit cacat berupa pecah dan retak dengan ujung yang sedikit mencekung. Sehingga hal ini menyebabkan tidak terlalu banyak bagian kayu jabon yang terbuang untuk digunakan sebagai bahan pembuat kayu lapis.

Selain itu, jabon juga mudah untuk direkatkan. Perekatan venir kayu jabon dengan menggunakan Ultraviolet, menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, Jepang dan Jerman. Jabon juga dipilih sebagai bahan baku kayu lapis, karena mudah dikupas. Sudut kupas yang bisa dihasilkan adalah 92o untuk tebal veneer 1,5 mm.

Kondisi yang ada pada kayu Jabon inilah yang kemudian menjadikan Jabon layak digunakan baik untuk Face Veneer atau Core Veneer. Face Veneer adalah bagian muka dari kayu lapis, dan Core Veneer adalah bagian tengah dari kayu lapis itu sendiri. Data saat ini ( Mei 2011 ) dari PT Sekawan Sumber Sejahtera Temanggung,harga Log Kayu jabon Panjang 260 cm dengan diameter 20cm-40 cm bervariasi antara 550rb sampai dengan1,15 juta per meter kubik.

Selain digunakan untuk kayu lapis, pemanfaatan Jabon juga banyak dilakukan oleh sektor industri lain. Seperti digunakan untuk korek api, peti pembungkus, cetakan beton. Jabon juga dimanfaatkan dalam pembuatan mainan anak-anak, industri pulp and paper, kayu lamina dan juga dalam pembuatan konstruksi darurat yang ringan.

Banyaknya pemanfaatan Jabon inilah yang menjadi sebuah gambaran tentang cerahnya masa depan industri penanaman Jabon. Dengan kemudahan sistem penanaman yang ditawarkan, kiranya hal ini bisa dilirik sebagai salah satu sumber investasi masa depan. Karena selain bermanfaat untuk menciptakan keuntungan ekonomi, investasi Jabon bisa digunakan untuk menyelamatkan lingkungan dari ancaman kerusakan akibat penebangan hutan secara liar. Apalagi, data menunjukkan bahwa kebutuhan kayu untuk industri selalu meningkat setiap tahunnya. Pada saat ini, industri membutuhkan kayu sebanyak 49 juta m3 setiap tahunnya. Namun dari kebutuhan itu, baru bisa terpenuhi secara legal sebanyak. 27juta m3. Hal ini merupakan salah satu indikator, bahwa masih banyak peluang yang bisa didapatkan dari budidaya Jabon ini.

Speak Your Mind

*